10 Cerita Umar Bin Khattab Sangat Menginspirasi

cerita umar bin khattab
Cerita Umar bin khattab | ceritabumi.com

Cerita Umar Bin Khattab – Berikut merupakan kumpulan kisah/cerita Umar bin Khattab yang sangat menginspirasi, tapi sebelum itu akan kita bahas sedikit mengenai biografi sang khalifah.


BIOGRAFI SINGKAT UMAR BIN KHATTAB AL FARUQ

Umar bin Khattab adalah khalifah kedua umat islam setelah Abu bakar Ash Shiddiq, ia berkuasa pada tahun 634 sampai 644. Umar juga merupakan salah satu sahabat utama Nabi Muhammad dan juga merupakan ayah dari Hafshah, istri Nabi Muhammad.

Umar termasuk salah satu pemimpin yang hebat dan menjadi suri teladan bagi umat, bahkan dalam beberapa hadits menyebutkan dirinya sebagai sahabat Nabi paling utama setelah Abu Bakar. Dia diberikan julukan oleh Nabi Muhammad yaitu Al-Faruq yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

Pada masa kepemimpinannya, kekhalifahan menjadi salah satu kekuatan besar baru bagi umat islam dan di wilayah Timur Tengah. Umar berhasil mengambil alih kepemimpinan dua pertiga dari wilayah Kekaisaran Romawi Timur. Perluasan wilayah ini juga diikuti dengan berbagai macam pembaharuan. Dalam bidang pemerintahan dan politik contohnya, departemen khusus dibentuk sebagai tempat masyarakat dapat mengadu mengenai para pejabat dan negara. Pembentukan Baitul Mal juga menjadi salah satu pembaharuan Umar dalam bidang ekonomi. Segala capaiannya itu yang menjadikan Umar sebagai salah satu khalifah paling berpengaruh sepanjang sejarah.

Baca juga: 3 Cerita Inspirasi Islam Terbaik Tentang Kematian dan Ibadah


10 CERITA/KISAH UMAR BIN KHATTAB

Keunikan Hijrah Umar Ke Madinah

Kisah umar bin khattab
Hijrah ke Madinah | ceritabumi.com

Beberapa saat setelah turunnya wahyu tentang perintah hijrah ke madinah, Rasulullah menyuruh para sahabat di Makkah untuk segera berhijrah ke Madinah untuk bergabung dengan kaum Anshar yang sudah menunggu mereka di sana. Beliau memperingati mereka agar meninggalkan Makkah dengan hati-hati, tidak bergerombolan serta menyelinap di malam maupun siang hari. Hal ini dimaksudkan agar jangan sampai diketahui oleh kaum musyrikin Quraisy ehingga mereka akan bergerak untuk menghadang di perjalanan.

Para sahabat sangat mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rasul, mereka kemudian berhijrah dengan diam-diam meninggalkan kota Makkah tanpa sepengetahuan penduduknya.

Namun, lain halnya dengan Umar ibn al-Khathab, dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa sesaat sebelum berangkat hijrah Umar membawa pedang dan menyelempangkan busur dengan menggenggam anak panah di tangan dan sebatang tongkat komando. la menuju ke Ka’bah disaat orang-orang Quraisy tengah berkumpul di sana. Dia melakukan tawaf di Kabah tujuh kali, kemudian menuju ke Maqam Ibrahim untuk melaksanakan shalat. Setelah itu, setiap perkumpulan orang banyak didatanginya satu per satu seraya berkata

“Wajah-wajah celaka! Allah menistakan orang-orang ini! Aku akan berhijrah ke Madinah untuk melaksanakan perintah Rasulullah. Barang siapa yang ingin diratapi oleh ibunya, ingin anaknya menjadi yatim atau istrinya menjadi janda, silahkan datang menemui ku di balik lembah ini”.

Tidak ada seorang pun dari mereka yang berani menjawab tantangan ini, akhirnya Umar hijrah ke Madinah tanpa ada ancaman atau dihalang-halangi oleh kaum musyrikin Quraisy, bahkan dibelakangnya juga ikut berhijrah beberapa kaum muslimin yang lemah.

Baca juga: Sering Bertengkar Dengan Ibu? “Semangkuk Bakso”, Coba Baca Cerita Pengorbanan Seorang Ibu Ini!


Keadilan untuk Rakyat, Walaupun Beragama Yahudi

Sejak menjadi Gubernur di Mesir, Amr bin ‘Ash menempati sebuah istana megah yang di depannya terdapat sebidang tanah kosong. Di tanah itu hanya ada gubuk reyot yang hampir roboh milik seorang Yahudi tua.

Selaku Gubernur, Amr menginginkan agar di atas tanah tersebut didirikan sebuah masjid yang indah dan megah, seimbang dengan istananya. Ia merasa tidak nyaman dengan adanya gubuk Yahudi tersebut di atas tanah itu. Oleh karenanya, si Yahudi tua pemilik gubuk tersebut dipanggil ke istana.

“Wahai orang Yahudi, aku berencana membangun sebuah masjid di atas lahan yang saat ini kau tempati. Berapa engkau mau menjual tanah dan gubukmu itu?”

 “Tidak akan kujual, Tuan,” jawab si Yahudi sambil menggelengkan kepalanya.

“Bagaimana kalau kubayar tiga kali lipat dari harga biasa?” goda sang Gubernur.

“Tetap tidak akan kujual,” tegas si Yahudi.

“Jika kubayar lima kali lipat, apakah kau akan menjualnya?”

“Tidak, Tuan! Aku tetap tidak akan menjualnya, karena itulah satu-satunya harta yang kumiliki?”

“Apakah kau tidak akan menyesal nantinya?” ancam sang Gubernur.

“Tidak tuan” tegasnya mantap.

Begitu si Yahudi tua itu pergi dari hadapannya, Amr bin ‘Ash menetapkan kebijakan untuk membongkar gubuk reyot tersebut. Ia meminta supaya didirikan masjid besar di atas tanah itu dengan alasan demi kepentingan bersama dan memperindah pemandangan di tempat itu.

Si Yahudi pemilik tanah dan gubuk reyot tersebut tidak bisa berbuat banyak atas kebijakan sang Gubernur. Ia hanya bisa menangis dan terus menangis. Namun, ia tidak putus asa, dan bertekad hendak mengadukan perihal itu kepada atasan gubernur yaitu Khalifah Umar ibn al-Khathab, di Madinah.


Setibanya di Madinah, si Yahudi tersebut bertanya kepada orang-orang di sana, di mana letak istana sang Khalifah. Usai ditunjukkan, ia kaget bukan kepalang karena sang Khalifah tidak punya istana sebagaimana Gubernur Mesir yang punya istana sangat mewah. Bahkan, ia disambut oleh Khalifah di halaman Masjid Nabawi di bawah pohon kurma.

“Apa keperluanmu datang jauh-jauh dari Mesir?” tanya Umar sesudah mengetahui bahwa tamunya itu berasal dari negeri jauh.

Si Yahudi itu pun mengutarakan maksud dan tujuannya menghadap sang Khalifah. Dia membeberkan peristiwa yang menimpa dirinya serta kesewenang-wenangan Gubernur Mesir atas tanah dan gubuk satu-satu miliknya yang sudah reyot.

Bagaimana reaksi Umar? Ia marah besar.

“Kurang ajar si Amr bin ‘Ash! Dia sungguh sudah keterlaluan!” umpat sang Khalifah.

Lantas Umar lalu menyuruh si Yahudi itu untuk mengambil sepotong tulang unta. Tentu saja, si Yahudi itu menjadi bingung dan ragu dengan perintah sang Khalifah yang dianggapnya aneh dan tidak ada hubungannya dengan pengaduannya. Namun, akhirnya ia pun mengambil tulang itu dan kemudian diserahkan kepada Umar.

Kemudian Umar menggores huruf alif dari atas ke bawah, lalu membuat tanda palang di tengah-tengah tulang tersebut dengan pedangnya. Kemudian, tulang itu diserahkan kepada si Yahudi yang masih bengong dan tidak mengerti maksud dari Khalifah. Umar hanya berpesan,

“Bawalah tulang ini dan beritahukan kepada Gubernur Amr bin ‘Ash bahwa ini dariku!”

“Maaf Tuan, terus terang aku masih tidak mengerti. Aku datang jauh-jauh ke sini untuk meminta keadilan dari mu, bukan tulang yang tidak berharga ini,” protes si Yahudi.

Sang Khalifah hanya tersenyum, tidak marah. Ia pun menegaskan,

“Wahai orang yang menuntut keadilan, sesungguhnya pada tulang itulah terletak keadilan yang engkau inginkan.”

Akhirnya, kendati pun hati si yahudi tersebut masih dongkol dan terus mengomel, dia pun pulang ke Mesir membawa tulang pemberian sang Khalifah.


Setibanya di Mesir, ia menyerahkan tulang dari khalifah tersebut kepada sang Gubernur, Amr bin ‘Ash. Namun, anehnya, begitu sang Gubernur menerima tulang itu, mendadak tubuhnya menjadi menggigil dan wajahnya pucat ketakutan. Lagi-lagi, si Yahudi tak mengerti terhadap situasi itu. Beberapa saat kemudian, sang Gubernur memerintahkan kepada bawahannya untuk membongkar masjid yang baru rampung dinbangun itu, dan supaya gubuk lelaki Yahudi tersebut dibangun kembali serta diserahkan kembali kepadanya.

Beberapa saat sebelum masjid baru itu akan dirobohkan, si Yahudi berkata,

“Maaf Tuan, tidak perlu dibongkar dulu masjid itu. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu?”

“Silakan, ada perlu apa lagi?” tanya Amr bin ‘Ash.

“Mengapa Tuan sangat ketakutan dan langsung menyuruh membongkar masjid baru itu, padahal Tuan hanya menerima sepotong tulang dari Khalifah Umar?”

“Wahai orang Yahudi” jawab Amr,

“Ketahuilah bahwa, tulang itu hanya tulang biasa. Akan tetapi, karena dikirimkan oleh Khalifah, tulang itu pun berubah menjadi peringatan keras bagiku.”

“Maksudnya?” potong si Yahudi masih tidak mengerti.

“Ya, tulang itu berisi ancaman dari Khalifah. Seolah-olah beliau berkata,

“Hai Amr bin ‘Ash, Ingatlah! siapa pun kamu sekarang dan betapa pun tinggi pangkat dan kekuasaanmu, suatu saat nanti kamu pasti akan berubah menjadi tulang yang busuk. Oleh karena itu, bertindaklah adil seperti huruf alif yang lurus, adil ke atas dan juga adil ke bawah. Sebab, apabila kamu tidak bertindak lurus, pedangku nantinya yang akan bertindak dan memenggal lehermu!”

Si Yahudi tersebut tertunduk dan begitu terharu mendengar penuturan dari sang Gubernur. Ia sangat kagum atas sikap Khalifah yang tegas dan adil, serta sikap Gubernur yang sangat patuh dan taat kepada atasannya, hanya dengan menerima sepotong tulang unta kering. Sungguh mulia dan mengagumkan!

Akhirnya, si Yahudi itu menyatakan memeluk Islam, lalu ia menyerahkan tanah dan gubuknya tersebut sebagai wakaf.


Aku Memaafkannya karena Dia Adalah Orang Saleh

Pada suatu masa Umar ibn al-Khathab menulis surat untuk Fairuz ad-Dailami: “Telah sampai laporan kepadaku bahwa kamu terlalu disibukkan oleh kehidupanmu yang menyenangkan. Apabila suratku ini sampai kepadamu, maka datanglah menghadapku lalu berperanglah di jalan Allah!”

Usai menerima surat tersebut, Fairuz datang dan mohon izin untuk menemui Khalifah Umar. Ketika Umar mengizinkannya untuk masuk, tiba-tiba seorang pemuda Quraisy datang dan mendesaknya di pintu masuk. Karena diperlakukan demikian, Fairuz tidak terima begitu saja, ia melayangkan tinjunya ke hidung pemuda Quraisy tersebut. Tentu saja, wajah pemuda tersebut berdarah dan hal itu terlihat oleh Umar usai berhadapan dengannya.

“Siapa yang telah berbuat begini padamu?” tanya Umar.

Si pemuda menjawab,

“Fairuz yang telah melakukannya. Ia tadi memukulku di pintu masuk.”

Selanjutnya, giliran Fairuz yang masuk dan menghadap Umar. Sang Khalifah bertanya kepadanya,

“Apa yang telah engkau lakukan padanya wahai Fairuz?”

Ia menjawab,

“Wahai Amirul Mukminin, pertama sekali, kami belum terlalu jauh dari nuansa kerajaan. Kedua, engkau telah menyuratiku sementara dia tidak kau surati. Ketiga, engkau telah mengizinkan aku untuk masuk, sedangkan ia belum kau izinkan, tetapi ia ingin masuk mendahuluiku dalam masa izinku itu, oleh karena itu aku memukulnya seperti yang telah ia ceritakan kepadamu.”

“Jika demikian, engkau harus di-qishash” kata Umar.

“Haruskah?” tanya Fairuz.

“Ya, harus.”

Kemudian Fairuz berdiri dengan kedua lututnya, sementara pemuda itu bangkit hendak melaksanakan qishash.

Sekejap kemudian, Umar berkata kepada si pemuda,

“Tunggu dulu, wahai pemuda. Sebelumnya aku akan memberitahukan kepadamu bahwa aku pernah mendengar Rasulullah SAW berkata pada suatu siang,

“Malam ini, Aswad al- Ansi (seorang nabi palsu) akan terbunuh, pembunuhnya adalah seorang hamba yang saleh, Fairuz ad-Dailami. Setelah mendengar sabda Rasulullah ini, apakah kamu masih ingin mengambil qishash darinya?”

Si pemuda menjawab,

“Tidak, aku sudah memaafkannya sesudah engkau sampaikan kepadaku sabda Rasulullah tentang hal itu.”

Kemudian Fairuz bertanya kepada Umar,

“Apakah menurutmu ini jalan keluar yang terbaik untuk perbuatanku, yakni pengakuan bersalah dariku, lalu permaafan darinya dengan sukarela?”

“Ya, benar.”

Fairuz kemudian melanjutkan,

“Aku mohon agar engkau menjadi saksi bahwa pedang, kuda, dan 30.000 dari uangku, akan aku berikan kepadanya sebagai hibah?


Cambukan Untuk Putra Bangsawan

kisah sahabat
Kisah Sahabat | ceritabumi.com

Pada suatu hari, disaat Umar ibn al-Khathab sedang duduk. Tiba-tiba ia didatangi oleh seorang lelaki dari Mesir dan dia bertanya,

“Wahai Amirul Mukminin, aku ingin mencari perlindungan kepadamu.”

Umar menjawab,

“Engkau telah mencari perlindungan kepada orang yang akan memberimu perlindungan, apa masalahmu wahai anak muda?”

Pemuda Mesir itu bercerita,

“Suatu hari, aku ikut dalam sebuah lomba pacuan kuda. Kudaku berhasil menyalip kuda salah seorang putra Amr ibn Ash, Gubernur Mesir. Tetapi karena kejadian itu, ia mencambukku dengan cemeti sambil berkata sombong bahwa dirinya putra bangsawan, peristiwa ini telah sampai ke telinga ayahnya, sang Gubernur. Tapi ia takut aku akan melaporkan kepada engkau. Sehingga aku dipenjarakan. Namun, segala puji bagi Allah, Dia berkehendak lain, aku dapat meloloskan diri dari penjara dan pergi ke sini untuk menemuimu.”

Mendengar pengaduan pemuda Mesir tersebut, Khalifah Umar menulis surat kepada Gubernur Mesir, Amr bin ‘Ash,

“Apabila suratku ini telah sampai ke tanganmu, pergilah engkau dan anakmu si “Fulan” pada musim haji ini.”

Sementara kepada pemuda Mesir itu dikatakan,

“Tinggallah engkau di sini hingga mereka datang.”

Amr bin ‘Ash benar-benar datang memenuhi perintah Umar untuk menunaikan ibadah haji pada tahun itu. Ketika Khalifah Umar selesai mengerjakan ibadah haji, ia duduk bersama kaum muslimin lainnya, sementara Amr bin ‘Ash dan putranya duduk di sisinya. Lalu, pemuda Mesir itu diminta untuk berdiri dan diberi sebuah cambuk olehnya, begitu juga dengan putra Amr bin ‘Ash, Umar juga memintanya untuk berdiri. Setelah dijelaskan perkaranya, yang bersangkutan (anak Amr) pun mengakui perbuatannya, kemudian Umar mempersilakan pemuda Mesir itu untuk membalas cambukan yang dulu diterimanya.

Pemuda Mesir itu pun terus mencambuk putra gubernur tersebut hingga orang-orang yang hadir merasa bahwa keadilan telah ditegakkan dengan hukuman itu. Akan tetapi, karena pemuda Mesir itu terus memberikan cambukannya, mereka lalu merasa iba dan bermaksud menghentikan hukuman itu. Sementara itu Umar berkata.

“Cambuk putra bangsawan itu!”

Pemuda Mesir tersebut menjawab.

“Wahai Amirul Mukminin, aku telah mencambuk orang yang mencambukku!”

“Ketahuilah,” lanjut Umar.

“Demi Allah, seandainya engkau terus melanjutkan, maka tidak seorang pun dapat mencegahmu sehingga engkau sendiri yang menghentikan cambukan itu.”

Kemudian, kepada sang Gubernur, Amr bin ‘Ash, Umar berkata, “Sejak kapan engkau memperbudak manusia, sedangkan mereka dilahirkan oleh ibu mereka dalam keadaan merdeka?”.


Kami Mencuri karena Kelaparan

Di dalam sebuah sidang peradilan, Umar ibn al-Khathab dihadapkan dengan dua orang pelayan yang masih kecil. Mereka dituduh melakukan pencurian seekor unta milik seorang laki-laki dari Bani Muzayyinah. Para pelayan cilik tersebut terlihat sangat kurus dan mukanya juga pucat. Tampak sekali penyesalan dan kekhawatiran terbayang dari wajah-wajah lusuh mereka, mengingat hukuman pencurian dalam Islam sangat berat, yaitu potong tangan. Mungkinkah mereka akan kehilangan salah satu tangan, pikir mereka. Padahal, buruh kasar seperti mereka, tangan adalah modal utama dalam mencari penghidupan.

“Kenapa kalian mencuri?” tanya Umar memecahkan suasana.

“Saat ini musim paceklik dan kami sangat kelaparan, wahai Amirul Mukminin,” ujar para pelayan.

Umar terdiam sejenak, kemudian mengarahkan pandangannya ke hadirin, “Siapakah majikan dari para pembantu ini?” tanyanya.

Di antara yang hadir tersebut menjawab bahwa majikan mereka adalah Hathib bin Abi Balta’ah. Selanjutnya, Umar meminta agar Hathib di bawa ke persidangan. Usai menghadap, Umar bertanya kepadanya, “Wahai Hathib, apakah benar engkau adalah majikan para pelayan ini?”

“Iya, benar, wahai Amirul Mukminin,” jawab Hathib agak gugup.

Umar kemudian melanjutkan,

“Hampir saja aku menimpakan hukuman kepada mereka, kalau saja aku tidak dapat kabar bahwasanya engkaulah yang telah mempekerjakan mereka, tetapi engkau membiarkan mereka begitu saja dalam keadaan kelaparan sehingga mereka terpaksa mencuri. Dan, aku tidak akan menimpakan hukuman kecuali untukmu.”

Selanjutnya, Umar menoleh ke arah pemilik unta seraya bertanya,

“Berapa harga untamu?”

Pemilik unta tersebut menjawab,

“Empat ratus dirham.”

Umar kemudian kembali menatap tajam kea rah Hathib, seolah-olah ia hendak menghunjam dalam hati majikan mereka. Hathib hanya menunduk. Selanjutnya, Umar mengeluarkan keputusan yang sangat bijaksana,

“Pergi dan berikanlah kepada pemilik unta tersebut delapan ratus dirham, dua kali lipat dari harga yang semestinya.”

Umar selanjutnya juga memberi keputusan kepada para pelayan tersebut.

“Kalian pergilah, dan jangan mengulangi lagi perbuatan yang seperti ini!”

Mendengar keputusan vonis tersebut, tentu saja para pelayan sangat senang  dan menarik napas lega. Mereka menganggap bahwa keputusan seperti itu sangat bijaksana bagi mereka.


Hak Anak atas Orang Tua

Seorang laki-laki datang menghadap Khalifah Umar untuk mengadukan perihal anaknya yang telah berbuat durhaka terhadapnya. Menanggapi pengaduannya itu, Umar lalu mendatangkan anaknya dan memberitahukan kepadanya bahwa dia telah mendurhakai ayahnya, dan ia melupakan hak-haknya terhadap ayahnya itu.

Lantas si anak bertanya kepada Umar,

“Wahai Amirul Mukminin, bukankah sebagai anak pun kami mempunyai hak-hak atas ayahnya?”

“Ya, tentu,” jawab Umar.

“Apakah hak-hak itu, wahai Amirul Mukminin?” susul sang anak.

Umar menjawab,

“Memilihkan siapa ibunya, memberikan nama yang baik, dan mengajarkan Al-Quran kepadanya.”

Sang anak pun tersenyum, lalu berkata,

“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku belum memenuhi satu pun di antara semua hak itu. Ibuku adalah seorang bangsa Ethiopia beragama Majusi. Mereka menamai aku dengan nama Ju’al (kumbang kelapa), dan ayahku belum pernah mengajarkan satu huruf pun dari Al-Quran”

Kemudian, Umar menoleh kepada lelaki itu seraya berkata,

“Engkau telah datang kepadaku mengadukan perihal kedurhakaan anakmu. Padahal, engkau telah mendurhakainya terlebih dahulu sebelum dia mendurhakaimu. Engkau pun tidak pernah berbuat baik kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu.”


Tutupi aibnya dan Nikahkan Dia!

Pada suatu hari, seorang laki-laki menghadap Khalifah Umar seraya berkata,

“Wahai Amirul mukminin, aku mempunyai seorang anak perempuan. Pada masa jahiliyah, ketika ia masih kecil, aku pernah menguburnya hidup-hidup. Namun, sebelum ia mati, aku mengeluarkannya kembali dari dalam tanah. Setelah Islam datang, saya memeluk Islam, begitu pula dengannya, lantas, anakku itu melakukan suatu dosa yang hukumannya adalah had. Karena merasa malu, ia mengambil sebilah pisau dan berusaha untuk bunuh diri. Beruntung nya, kami sempat menyelamatkan nya walaupun ada bagian lehernya yang terluka. Kemudian kami mengobatinya hingga ia sembuh. Sekarang, dia dilamar oleh seorang laki-laki. Wahai Amirul Mukminin, apakah aku perlu memberitahukan peristiwa-peristiwa pada masa lalunya kepada lelaki yang melamarnya tersebut?”

Umar menjawab,

“Apakah engkau berniat hendak membeberkan hal yang telah ditutupi oleh Allah? Demi Allah, kalau engkau sampai memberi tahu laki-laki itu tentang keadaan buruk anak perempuanmu pada masa lalu itu, engkau sendiri akan kujadikan contoh buruk bagi seluruh penduduk. Nikahkan dia sebagai perempuan muslim yang suci!”


Wanita yang Terpaksa Berzina

cerita inspirasi
Terpaksa berzina | ceritabumi.com

Pada suatu hari, seorang wanita dituduh berzina dan kemudian dihadapkan kepada Khalifah Umar. Wanita itu pun ditanya,

“Wahai wanita, Benarkah engkau berzina seperti yang dituduhkan orang-orang terhadapmu?”

Wanita itu tertunduk, sedih penuh penyesalan. Ia lantas berterus terang mengakui perbuatannya, “Memang benar, wahai Amirul Mukminin.”

Atas dasar pengakuan tersebut, Umar pun memerintahkan agar si wanita itu dirajam. Namun, sebelum eksekusi itu dilaksanakan, Ali ibn Abi Thalib yang saat itu hadir, berkata,

“Barangkali dia mempunyai keterangan lain, wahai Amirul Mukminin.”

Ali kemudian bertanya kepada si wanita,

“Apa sebenarnya yang menyebabkan engkau berzina, wahai wanita?”

Si wanita itu pun bercerita,

“Dalam suatu perjalanan jauh, aku ditemani oleh seorang lak-laki. Dia mempunyai persediaan air dan susu pada untanya, sedangkan perbekalanku benar-benar habis saat itu. Aku sangat haus sehingga aku meminta agar dia mau menolongku dengan memberikan air barang seteguk. Akan tetapi, dia menolak. Sampai tiga kali aku meminta tolong dan dia tetap menolak, dia memnita sebagai gantinya aku harus bersedia menyerahkan diri kepadanya. Pada mulanya, aku dengan keras menolak permintaannya, akan tetapi setelah aku merasa hampir mati kehausan, terpaksa aku berikan apa yang dia inginkan. Setelah itu, barulah dia mau memberikan air kepadaku.”

Mendengar keterangan tersebut, Ali pun mengucapkan takbir, lalu membaca firman Allah

Tetapi barang siapa yang terpaksa, bukan karena menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ali menoleh kepada Umar seraya berkata,

“Wahai Amirul Mukmini, Aku berpendapat, hendaknya engkau membebaskan wanita ini dari hukuman had.”

Akhirnya, Umar pun menerima pendapat Ali dan wanita tersebut dibebaskan dari hukuman.


Membacok Sepasang Paha Istri

cerita sahabat
Cerita Sahabat | ceritabumi.com

Ketika Khalifah Umar sedang makan siang, tiba-tiba seorang laki-laki datang tergopoh-gopoh membawa sebilah pedang yang berlumuran darah sedangkan di belakangnya tampak beberapa orang yang sedang mengejarnya. Umar pun bertanya kepada orang-orang yang mengejar laki-laki tersebut,

“Mengapa kalian mengejar laki-laki ini?”

Mereka menjawab,

“Wahai Amirul Mukminin, dia baru saja membunuh seorang teman kami!”

Umar lalu menoleh kepada laki-laki yang membawa pedang berlumuran darah itu,

“Apa yang hendak kamu katakan?”

“Wahai Amirul Mukminin, aku baru saja membacok sepasang paha istriku, akan tetapi karena di antara kedua pahanya tersebut terdapat seorang laki-laki, maka dengan sendirinya dia terbunuh.”

Lalu, Umar bertanya lagi kepada mereka yang mengejar,

“Nah, sekarang apa yang hendak kalian katakan?”

Mereka menjawab,

“Wahai Amirul Mukminin, dengan pedangnya itu dia telah membunuh lelaki yang berada di tengah kedua paha istrinya.”

Setelah mendengar kesaksian mereka yang cocok dengan pengakuan lelaki tersebut, Umar mengambil pedang yang berlumuran darah dari tangan lelaki itu, dan setelah itu dia guncang-guncangkan sebentar, kemudian pedang itu diserahkan lagi kepada pemiliknya seraya berkata,

“Kalau ada lagi lelaki yang berani berbuat seperti itu, lakukanlah lagi!”


Khalifah Tidak Tidur pada Siang Hari

Ketika Alexandria jatuh ke tangan pasukan kaum muslimin, Amr bin ‘Ash segera mengutus Mu’awiyah ibn Khudaij agar menyampaikan berita gembira tersebut kepada Khalifah Umar di Madinah. Mu’awiyah tiba di Madinah pada siang hari, oleh karenanya, ia menduga bahwa Umar mungkin sedang istirahat atau tidur siang. Dia langsung saja pergi ke masjid Nabi. Beruntungnya, seorang pembantu Umar melihatnya dengan pakaian pengembaranya dan menanyakan perihal dirinya serta dari mana dia datang. Sang utusan, Mu’awiyah tersebut, menjawab,

“Aku datang dari Alexandria.”

Mendengar hal tersebut, segera saja sang pembantu itu pulang dan memberitahukan hal tersebut kepada Khalifah Umar. Khalifah pun segera menyuruh pelayan itu kembali dan memberitahu agar Mu’awiyah datang menghadapnya. Tampaknya, Umar begitu tak sabar sehingga ia segera bangkit tidak mau menunggu selang waktu sampai pelayan itu sampai kepadanya kembali.

Ketika Umar hendak beranjak ke masjid, Mu’awiyah pun. Sang utusan itu menyampaikan berita kemenangan pasukan kaum muslimin. Seketika itu Umar bersujud di tanah menyatakan syukurnya kepada Allah. Usai bersujud, Umar berpaling kepada pelayannya menanyakan apakah di rumahnya masih tersedia makanan dan minuman.

Sang pelayan selanjutnya datang lagi membawa sepotong roti dan minyak zaitun. Umar meletakkan hidangan sederhana itu di depan tamunya sambil bertanya,

“Mengapa engkau tidak langsung datang kepadaku?”

“Kupikir sekarang waktu istirahat dan barangkali engkau sedang tertidur,” jawab Mu’awiyah.

Umar menjelaskan,

“Maafkanlah aku, nampaknya, engkau tidak memiliki pendapat yang cukup tentang diriku. Siapa yang akan memikul tanggung jawab khalifah jika aku harus tidur siang hari?”


Sang Khalifah di depan pengadilan

Umar bin Khattab adalah salah seorang sahabat Rasulullah, dia merupakan orang yang kedua dipercaya oleh kaum muslimin untuk menduduki kursi khalifah setelah Abu Bakar Ash Shiddiq

Suatu ketika, Khalifah Umar dan Ubay bin Ka’ab berselisih paham, mereka berdua membawa persoalan tersebut ke pengadilan. Yang menjadi hakim pada saat itu adalah Zaid bin Tsabit. Sang khalifah datang ke pengadilan sebagai terdakwa.

Baru saja qadhi melihat Umar, ia pun menundukkan kepalanya memberi hormat layaknya seseorang memberi hormat kepada khalifah. Namun, Umar tidak suka diberlakukan demikian. Umar berkata, “Tidak pantas seorang qadhi memberi hormat kepada seseorang di depan pengadilan. Sebab, perlakuan itu tidak adil bagi orang lain di sini. Tapi biarlah, kali ini aku maafkan perbuatanmu”.

Usai demikan Umar pun duduk di atas bangku orang-orang biasa di samping Ubay bin Ka’ab, pengadilan pun dimulai. Ubay meminta agar khalifah dikecualikan dari pengambilan sumpah. Qadhi menjelaskan bahwa yang demikian itu tidak mungkin untuk dilakukannya. Ia meminta agar Ubay mau mengadakan pengecualian karena terdakwa kali ini adalah khalifah.

Melihat hal itu, tentu saja Umar tidak bersenang hati, “saudara qadhi”, tegas Umar, “Teruskanlah pengadilan ini sebagaimana mestinya. Sesudah ini, aku akan memikirkan tindakan apa yang akan diambil terhadap saudara atas sikap saudara yang tidak besrsedia memperlakukan para terdakwa sama rata di pengadilan hanya karena orang itu adalah Umar”.


Baca juga:
20+ Contoh Puisi Baru (Modern) Terkeren, tentang Cinta, Romantis, Sahabat & Kesedihan, Lengkap!

5 Jurusan Kuliah Terfavorit Dengan Prospek Kerja Sangat Dibutuhkan 2019

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy link
Powered by Social Snap