Contoh Khutbah Idul Fitri Terbaik Sepanjang Masa

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

contoh khutbah
Khutbah Hari Raya | ceritabumi.com

Contoh Khutbah – Hari raya Idul Fitri adalah salah satu dari dua hari raya bagi umat islam di seluruh dunia. Setelah berpuasa selama sebulan penuh, umat islam akan berhadapan dengan hari yang fitri, yang maksudnya kembali ke fitrah (suci), di antara salah satu sunnah di hari Idul Fitri yaitu shalat sunnah Id, yang didalam pelaksanaannya juga terdapat Khutbah.

Berikut sedikit paparan tentang khutbah di hari Raya Idul Fitri beserta contoh khutbah nya.

RUKUN KHUTBAH

Rukun Khutbah hari raya sama dengan khutbah Juma’t juga yaitu:

  1. Memuji Allah SWT
  2. Shalawat Kepada Rasulullah SAW
  3. Washiat untuk orang-orang mukmin (Taqwa)
  4. Membaca Ayat Al quran
  5. Berdo’a Untuk Kaum Muslimin

Selanjutnya, ini adalah salah satu contoh khutbah Idul Fitri terbaik tentang Iman dan Taqwa:

KHUTBAH I

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا ِلإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَناَ عَلىَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للِنَّاسِ. نَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ

اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّر

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُسُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

 قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


 KHUTBAH II 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ ,اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ، أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ .

اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ .

فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوا اللهَ مَااسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون . وَقَالَ أَيْضًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلاً وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ , إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

khutbah idul fitri
Khutbah Idul Fitri | ceritabumi.com

MATERI KHUTBAH

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Setiap amalan punya tujuan dan subtansi tersendiri, sebagai mana shalat untuk mencegah perbuatan keji dan munkar, maka puasa juga untuk mencetak jiwa-jiwa yang bertaqwa kepada Allah, kenapa dengan berpuasa bisa menjadikan kita orang-orang bertaqwa?, karna ketika puasa kita dituntut untuk menahan diri dari hawa nafsu, bahkan dari hal-hal yang pada dasarnya halal, sehingga bila manusia menahan diri dari yang halal-halal saja mampu, apalagi menahan diri dari yang haram-haram.

Apa itu taqwa? Laa ya’shuunalloha maa amarohum wayaf’aluuna maa yu’marun.

Sehingga takwa ini juga merupakan standar paling tinggi tingkat kemuliaan manusia. Seberapa tinggi derajat mulia manusia tergantung pada seberapa tinggi takwanya. Inna akramakum ‘indallâhi atqâkum.

Selain itu bapak dan ibuk sekalian, Ramadhan tentu lebih dari sekadar latihan. Ia wahana penempaan diri sekaligus saat-saat dilimpahkannya rahmat (rahmah), ampunan (maghfirah), dan pembebasan dari api neraka (itqun minan nâr). Sehingga hari raya setelah ramadhan itu namanya Idul fitri, kembali suci, setelah dosa-dosa kita diampunkan oleh Allah SWT, setelah pahala yang kita dapatkan selama bulan ramadhan, bahkan Allah juga menghapus bukan saja mengampunkan dosa kita sebagaimana sifatnya Al ‘Afu.

Bapak dan ibuk sidang jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah SWT!

Allah Berfirman dalam Al Quran, pad surat az zariyat, ayat : 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja)” 

Tafsir jalalain:

pengertian dalam ayat ini sama sekali tidak bertentangan dengan kenyataan, bahwa orang-orang kafir tidak menyembah-Nya. Karena sesungguhnya tujuan dari ayat ini tidaklah memastikan keberadaannya. Perihalnya sama saja dengan pengertian yang terdapat di dalam perkataanmu, “Aku runcingkan pena ini supaya aku dapat menulis dengannya.” Dan kenyataannya terkadang kamu tidak menggunakannya.

Tafsir Al Misbah:

Aku tidak menciptakan jin dan manusia untuk suatu manfaat yang kembali kepada-Ku, tetapi mereka Aku ciptakan untuk beribadah kepada-Ku. Dan ibadah itu sangat bermanfaat untuk mereka sendiri.

Para Ulama membagi perbuatan manusia setidaknya ke dalam 4 garis besar:

  1. Ibadah

Shalat, Puasa, berzakat baca al quran dan berhaji ini termasuk ke dalam katagori ibadah, murni kita mengerjakannya untuk mengharapkan keridhaan dari Allah.

  1. Adat (Kebiasaan)

Semua kebiasaan atau kebutuhan kita sehari-hari termasuk ke dalam katagori ini, seperti tidur, makan, mencari rizki dsb. Adat ini bisa kita tarik menjadi ibadah atau bernilai ibadah ketika kita meniatkannya semata-mata karna Allah SWT. Tapi sebaliknya, kalau adat ini menjadi penghalang bagi kita untuk beribadah kepada Allah, maka akan berubah menjadi ghaflah atau bahkan menjadi maksiat kepada Allah SWT.

  1. Ghaflah (Lalai)

Lalai ini yang susah untuk kita jadikan Ibadah, bahkan muaranya terkadang menjadi maksiat, ibuk-ibuk atau bahkan bapak-bapak yang suka nonton sinetron, ini termasuk ke dalam kategori ghaflah, bahkan kalau ada gambar-gambar yang membuka aurat bisa membawa kepada maksiat. Ketika kita tidur atau pun duduk-duduk santai ketika azan sudah berkumandang di mesjid sehingga tidak shalat berjamaah di mesjid, ini termasuk ghaflah bahkan dapat dosa kalau melalaikan waktu shalat. Ketika semua perbuatan dunia ini menyebabkan kita tidak membaca quran, ini adalah Ghaflah yang menjurumuskan kepada maksiat.

Pada yaumil mahsyar nanti ada yang dibangkitkan oleh Allah dalam keadaan buta, sebagaimana firman Allah

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (١٢٤)قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (١٢٥)قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (١٢٦)

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

“Dia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?”

Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan.”

5 Tingkatan Muslim dalam Berinteraksi dengan Al-Quran

  1. Muslim yang Hanya Membaca Al-Qur’an
  2. Muslim yang Membaca dan Mentadabburi Al-Qur’an
  3. Muslim yang Membaca, Mentadabburi, serta Menghafal Al-Qur’an
  4. Muslim yang Membaca, Mentadabburi, Menghafal, dan Mengamalkan Al-Qur’an
  5. Muslim yang Membaca, Mentadabburi, Menghafal, Mengamalkan serta Mengajarkan Al-Qur’an
Khutbah iman dan taqwa
Membaca Al Quran | ceritabumi.com
  1. Maksiat

Semua perbuatan yang bertentangan dengan apa yang Allah perintahkan dan apa yang Allah larang termasuk ke dalam kategori ini, meninggalkan shalat lima waktu itu maksiat, meninggalkan shalat jumat itu maksiat

مَنْ تَرَكَ صَلاَةً مَكْتُوبَةً مُتَعَمِّداً فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ اللَّهِ

“Barangsiapa meninggalkan shalat yang wajib dengan sengaja, maka janji Allah terlepas darinya”.

Hadirin sidang jamaah shalat idul fitri yang dirahmati oleh Allah!

Bertepatan dengan momen Idul Fitri ini, khatib mengajak jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan Ibadah kita kepada Allah SWT, bulan ramadhan yang sudah kita lewati merupakan bulan latihan yang diberikan oleh Allah adapun bulan-bulan selanjutnya adalah bulan setelah latihan, berhasil atau tidaknya kita selama di bulan ramadhan yang baru kita lewati ini dapat kita lihat manifestasinya di bulan-bulan selanjutnya.

Bapak-bapak dan ibuk-ibuk sekalian yang saya hormati!

Allah berfirman dalam al quran:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” QS. Al-Qashash: 77

Ayat ini juga menjelaskan tentang satu ayat sebelum ayat ini yaitu:

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri’.” (QS. Al-Qashash:76)

Menurut ibnu Abbas, Qarun adalah sepupu nabi Musa, ayah nabi Musa yaitu Imran adalah abang dari ayah Qarun, awalnya dia taat, tetapi setelah itu inkar terhadap Allah. Jangan sampai kita sama seperti Qarun yang lupa untuk beribadat kepada Allah lantaran sibuk mencari rizki, sibuk dengan hal duniawi. Padahal dalam ayat tadi telah jelas bahwa Allah memerintahkan untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk kehidupan akhirat, untuk dunia hanya ala kadar saja, untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

Tapi kenyataan hari ini bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, berbanding terbalik, diasaat panggilan Allah di mesjid “hayya ‘alash shalah” hanya beberapa saja yang langsung bergegas ke mesjid, saat shubuh dikumandangkan “Ashshalatu khairun minan naum” semakin larut tidur, padahal shalat jama’ah itu sangat dianjurkan oleh rasulullah.

Ulama ada yang berpendapat bahwa shalat berjama’ah itu sunnah muakkad atau sangat dianjurkan bahkan ada bahkan dalam mazhab hanbali atau sebagian ulama imam hanbali shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain dan beberapa atau mungkin mayoritas syafi’iyah berpendapat bahwa shalat berjamaah ini fardhu kifayah. Rasulullah tidak pernah meninggalkan shalat jamaah kecuali shalat sunnah, mulai pertama turun dari isra’ mi’raj dimami oleh jibril selanjutnya beliau yang menjadi imam kaum muslimin, sampai ketika beliau sakit di akhir-akhir hayat beliau, abu bakar yang menjadi imam shalat dan beliau sebagai makmum shalatnya. Maka apa yang menghalangi kita ke mesjid bapak dan ibuk sekalian?, jangan menunggu ketika kita diantar ke mesjid dan dishalatkan di mesjid, tapi segera ke mesjid ketika azan berkumandang.

Kalau ibuk-ibuk yang shalatnya di rumah mungkin masih dimaklumi, tapi kalau bapak-bapak yang shalatnya di mesjid? Mau ikut ibuk-ibuk? Bisa-bisa menjadi mukmin yang shalihah.

Baca juga: Fadhilah/Keutamaan Shalat Tarawih per malam (Keutamaan Bulan Ramadhan)

Bapak-bapak dan ibuk-ibuk yang saya hormati!

Hasan al basri, yang merupakan seorang sufi, beliau pernah ditanya, apa rahasia zuhud anda, beliau menjawab:

Aku tahu rezekiku tidak akan diambil orang lain, karena itu hatiku selalu tenang. Aku tahu amalku tidak akan dikerjakan orang lain, kerana itulah aku sibuk beramal shalih.”

Jadi tidak perlu mati-matian kita dalam mengejar materi duniawi, kita mati-matian pun memang segitu yang Allah sediakan untuk kita, tapi mati-matianlah dalm berbuat amal shalih. Jangan mengira amal kita saat ini sudah cukup untuk kita ke syurga, pernah kah kita melakukan amal shaleh sunnah lainnya? Bersedekah? Baca quran? Kapan terakhir? Shalat malam, shalat tahajud?

Kapan kita terakhir kita melaksanakan shalat tahajud? Atau tidak pernah sama sekali dalam hidup kita mengerjakan shalat tahajud? Padahal kata rasulullah:

“Allah turun ke langit dunia setiap malam pada 1/3 malam terakhir. Allah lalu berfirman, Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan! Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri! Siapa yang meminta ampun kepada- Ku tentu Aku ampuni. Demikianlah keadaannya hingga terbit”

Khutbah iman dan taqwa
Shalat Malam | ceritabumi.com

Sidang Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati oleh Allah!

Terakhir bapak-bapak dan ibuk-ibuk sekalian, saya selaku masih tergolong sebagai pemuda, berpesan kepada bapak-bapak dan ibuk-ibuk sekalian sebagai mana pesan  al quran:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”

Bapak-bapak adalah suri tauladan untuk kami generasi muda, kesuksesan generasi bapak-bapak sekarang karna suksesnya generasi kakek-kakek terdahulu, kalau bapak-bapak malas berjamaah ke mesjid atau bahkan sering tidak shalat atau bahkan lebih parah lagi shalat jumat pun tidak pergi, bagaimana dengan kami?

Karna dakwah yang paling berkesan pada seorang anak itu adalah dakwah bil hal dari orang tuanya. Jadi, jika ingin mengubah kondisi lingkungan kita, harus mulai dari diri sendiri terlebih dahulu, sebagai mana analogi dalam leadership.

Jadi, kalaupun saat ini kita merasa lalai terhadap perintah Allah, segera bertaubat, bangun di sepertiga malam, shalat tahajud, mohon ampun atas semua dosa-dosa kita kepada Allah. Dalam al quran, Allah memanggil kita-kita yang penuh dengan dosa ini, “Ya ‘Ibadiyalladzi na asrafu ‘alaa anfusihim, laa taqnathu min rahmatillah, innallah yaghfiruzzunaba jami’an”

Kita masuk syurga bukan karena amalan kita bapak ibuk sekalian, kata rasul bukan karna amalan shalih kita, “wala ana”, tetapi karna apa? Karna allah ridho terhadap kita, bagaimana cara supaya Allah Ridho terhadap kita, kita pun harus ridho kepada Allah, ridho terhadap perintah dan kewajiban darinya serta ridho dari apa yang Dia larang.

“Radhiallahu ‘anhum wa radhu ‘anhu”. Allah ridho terhadap mereka, dan mereka pun ridho terhadap perintah Allah, ini lah ciri-ciri penghuni syurga, semoga kita semua menjadi penghuni syurganya Allah.. Amin, amin ya rabbal ‘alamin…

Wassalamu ‘alaikum wr wb..


Baca juga:

Pengantar Ilmu Waris Lengkap, Mudah dan Praktis (Pembagian Harta Warisan)

Pengertian, Hukum dan Tatacara Pelaksanaan Wasiat Lengkap, Mudah dan Praktis (Faraid)

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy link
Powered by Social Snap