KKN Unsyiah, Pengalaman Seru Kuliah Kerja Nyata di Aceh Jaya

KKN Unsyiah
Foto bersama siswa/i SD Panton Krueng | ceritabumi.com

KKN Unsyiah – Pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan serta pengabdian kepada masyarakat, tiga hal ini selalu diulang-ulang dan diingatkan kepada kami mahasiswa di masa awal-awal kuliah, tiga hal ini disebut dengan Tri dharma perguruan tinggi, frasa singkat yang mungkin tepat untuk menggambarkan hal tersebut adalah “Life is about to learn and share”. Ibarat sebuah pohon, percuma jika hanya memiliki batang yang besar dan daun yang lebat tetapi tidak memiliki buah yang bisa dinikmati oleh makluk lain.


Pengertian KKN

Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah suatu mata kuliah wajib beberapa kampus di Indonesia, Unsyiah adalah salah satunya. Mata kuliah ini merupakan mata kuliah yang sangat berbeda dengan mata kuliah lainnya, lantaran di dalam kegiatan ini mahasiswa langsung praktek di lapangan atau terjun di dalam masyarakat, mengaplikasikan ilmu-ilmu teoritis yang telah didapat di bangku kuliah.

Di beberapa kampus lain, mata kuliah serupa mempunyai beberapa nama lain seperti Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) dan lain-lain.


Sejarah KKN di Indonesia

Pada tahun 1971 Direktur Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia menetapkan tiga universitas yaitu Universitas Andalas, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Hasanuddin di bagian timur, sebagai perintis proyek kegiatan pengabdian masyarakat. Proyek perintis ini pada saat itu dikenal dengan nama Pengabdian Mahasiswa kepada Masyarakat. Hasil laporan dan evaluasi dari kegiatan ini selanjutnya dipaparkan pada Rapat Rektor Universitas atau Institut Negeri pada bulan Maret 1972, setelah selesai rapat tersebut Direktur Pendidikan Tinggi meminta 13 Universitas di 13 provinsi untuk melaksanakan kegiatan ini pada tahun ajaran 1973-1974. Universitas Gadjah Mada bertindak sebagai universitas pembina, sedangkan dua belas universitas lainnya termasuk kategori universitas madya, kedua belas universitas tersebut yaitu: Universitas Syiah Kuala, Universitas Sumatra Utara, Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, Universitas Diponegoro, Universitas Padjajaran, Universitas Brawijaya, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Udayana, Universitas Hasanuddin, Universitas Sam Ratulangi, dan Universitas Pattimura.


Pengalaman di KKN Unsyiah Periode XVI

Unsyiah
Foto bersama siswa/i SMP Panton Krueng | ceritabumi.com

Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman tiba di kata “pengabdian masyarakat” ini, bekal pengetahuan yang didapat di bangku kuliah harus kami aplikasikan di kegiatan ini.

Pada periode ini. Aceh Jaya ditunjuk sebagai tempat KKN Unsyiah periode ini, adapun tema dari KKN periode ini yaitu “One village one product” maksudnya, setiap kelompok mahasiswa yang nantinya akan ditempatkan di masing-masing desa agar merancang sebuah produk untuk diberikan kepada desa masing-masing.

Aceh jaya sendiri terdiri dari 9 kecamatan dan 172 desa di sana, daerah yang terbentang sangat panjang, mulai dari kecamatan Jaya yang paling dekat dengan Aceh Besar, hingga kecamatan Teunom yang paling dekat dengan Kabupaten Aceh Barat.

Kejadian Unik Sebelum KKN

Sebelum proses penempatan terakhir ada hal unik yang saya alami, yaitu di saat pembekalan peserta KKN, saat itu saya kehilangan Badge name peserta pembekalan, sehingga terancam hampir tidak  bisa mengikuti KKN, namun setelah melalui proses pengurusan yang panjang, pihak biro memaafkan kesalahan dan tetap memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti KKN di periode ini, dengan konsekuensi dipindahkan dari tempat semula di kecamatan Jaya ke kecamatan Panga, desa Panton Krueng.

Keluarga Baru

Kuliah kerja Nyata
Makan malam bersama | ceritabumi.com

Hari rabu tanggal 9 Januari 2019 merupakan hari pertama KKN, setelah paginya mendengar amanat dan pengarahan dari rektor di kampus, perjalanan pun dimulai, jarak dari Banda Aceh ke kecamatan panga, Aceh Jaya memakan waktu sekitar 3 jam. Selanjutnya sebelum diserahkan ke kecamatan dan desa masing-masing, kami diberi pengarahan singkat terlebih dahulu di Islamic center Aceh Jaya atau di depan kantor bupati Aceh Jaya, setelah pengarahan dari wakil rektor dan juga bupati Aceh Jaya, kami diserahkan oleh pihak kampus dan diterima oleh pihak kecamatan, baru sore harinya kami diserahkan ke pihak desa, kami disambut hangat oleh masyarakat disana, ditempatkan di dua rumah yang berbeda yang selanjutnya keluarga ini menjadi keluarga baru bagi kami.

Dari sini lah pengabdian dan petualangan kami di mulai, saya dan teman-teman (Zaki sebagai ketua kelompok, Rama, Haris, Furqan, Shiya, Nopi dan Indah) melalui  banyak hal disini, mulai dari bersosial dengan masyarakat, mandi disungai hingga menangkap ikan dengan cara tembak. Sungguh pengalaman-pengalaman yang belum kami dapat sebelumnya.

Program-program selama KKN

KPM kuliah pengabdian masyarakat
Belajar bahasa Inggris | ceritabumi.com

Adapun program-program yang kami berikan ke masyarakat, seperti menyusun Reusam gampong, mencetak spanduk struktur perangkat gampong, menanam pohon, membuat taman gizi.

Saya sendiri menjalankan program mengajarkan anak-anak di gampong baca al quran dengan tilawah, serta sosialisasi tentang pertambangan untuk anak-anak SMP disana. Banyak juga hal-hal dan pengetahuan baru yang kami peroleh dari diskusi dengan masyarakat, pak keuchik, perangkat-perangkat gampong dan pemuda-pemuda gampong disana. Banyak sumber daya alam yang bisa dioptimalkan baik produksi maupun pemasarannya disana, sungguh merupakan sebuah kesempatan yang besar bagi kami bisa belajar dan mengabdi disana selama satu bulan.

KKN
Belajar tilawah al quran | ceritabumi.com

Diantara program yang menyita waktu kami sangat banyak adalah pembuatan taman gizi, program ini sejatinya adalah program yang berasal dari Puskesmas kecamatan, disosialisakan ke setiap desa dan kami mahasiswa KKN yang ada di sana turut membantu menyukseskan program ini, sehingga program ini nantinya juga kami sebut sebagai program bermitra di dalam laporan akhir kami.

Minggu terakhir di sana, kami mengadakan sebuah kegiatan untuk adik-adik pengajian di sana, yaitu Festival Islami desa Panto krueng, kegiatan ini merupakan sebuah kegiatan perlombaan islami, beberapa cabang lomba yang turut diperlombakan antara lain, lomba Tilawah Al Quran, lomba Azan, lomba hafalan surat pendek dan lomba mewarnai gambar islami.

Adik-adik di sana pun sangat antusias dalam mengikuti kegiatan tersebut, acara ini berlangsung selama dua hari dua malam, dan penutupan acara dilaksanakan pada malam perpisahan atau hari terakhir kami disana.

Perpisahan kembali ke kampus

Hari Jum’at tanggal 8 Februari 2019 merupakan hari terakhir kegiatan ini, pagi harinya kami berkumpul di halaman kantor camat untuk mendengar arahan serta amanat-amanat dari pak camat kecamatan Panga sekaligus serah terima kembali mahasiswa ke pihak kampus dalam hal ini diwakili oleh Korcam (Koordinator Kecamatan) masing-masing.

Selanjutnya kami kembali berkemas untuk selanjutnya kembali ke Banda Aceh, sangat berat rasanya meninggalkan keluarga baru kami (Bapak, Ibu dan Saudara) disana, adek-adek kecil dan teman-teman yang selalu setia menemani kami disana.

Itulah lebih kurang pengalaman kami selama disana, pastinya tulisan ini sangat singkat, sehingga hanya menggambarkan garis besar kegiatan kami saja, tanpa menceritakan hal detail yang kami lalui.

Akhir kata, “gajah mati tinggal gadingnya, manusia mati tinggal jasanya”, tanpa jasa dan karya manusia akan tenggelam dimakan masa, nabi Muhammad SAW juga bersabda: “Khairunnass Anfa’uhum linnas wa ahsanuhum khuluqa” sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain dan yang paling baik akhlaqnya.

Wallahu ‘alam..


Baca juga:

3 Cerita Inspirasi Islam Terbaik Tentang Kematian dan Ibadah

Meninjau Hadits Anjuran Berenang, Memanah dan Berkuda (Hadits memanah) | Tafsir Falsafi

50 Soal Cerdas Cermat Agama Terbaik

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy link
Powered by Social Snap